festival gandrung sewu banyuwangi

Sejarah dan Pesona Festival Gandrung Sewu Banyuwangi, Luar Biasa!!

Festival Gandrung Sewu Banyuwangi berakar dari seni tari tradisional khas daerah ini, Tari Gandrung. Acara tahunan yang memukau ini menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Ingin tahu lebih lanjut tentang sejarah dan detail Festival Gandrung Sewu? Baca artikel ini untuk informasi yang lengkap dan penting, terutama jika Anda berencana menghadiri festival pada tahun 2023.

Pelaksanaan Festival Gandrung Sewu 2023:
Menurut situs resmi indonesia.travel yang dikelola oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Festival Gandrung Sewu akan diadakan pada 16 September 2023 di Pantai Boom, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Untuk menyaksikan festival ini secara langsung, pastikan Anda berada di Banyuwangi pada tanggal tersebut untuk mengikuti semua rangkaian acara yang memukau.

Sejarah Festival:
Tari Gandrung, yang menjadi cikal bakal festival ini, sudah ada sejak zaman dahulu di Banyuwangi. Awalnya, tarian ini hanya ditampilkan oleh segelintir penari. Namun, dalam Festival Gandrung Sewu, seribu penari ikut berpartisipasi, mewakili berbagai jenjang pendidikan, dari SD hingga SMA, dengan tinggi minimal 140 cm.

Festival ini pertama kali diusulkan pada tahun 1970-an oleh Bupati Banyuwangi, Djoko Supaat, dan berlangsung setiap tahun hingga tahun 1978. Setelah itu, festival ini sempat terhenti hingga tahun 2013, saat Bupati Abdullah Azwar Anas menghidupkannya kembali. Sejak saat itu, Festival Gandrung Sewu digelar setiap tahun dan biasanya berlangsung menjelang akhir tahun.

Baca artikel lengkap paket wisata banyuwangi lainnya :

  1. Paket Wisata Banyuwangi: Jelajahi Surga Alam yang Belum Terjamah
  2. Paket Wisata One Day Tour Banyuwangi
  3. Paket Wisata Banyuwangi 2 Hari 1 Malam
  4. Paket Wisata Banyuwangi 3 hari 2 Malam
  5. Paket Wisata Banyuwangi 4 Hari 3 Malam
  6. Paket Wisata Banyuwangi 5 Hari 4 Malam

Sejarah Tari Gandrung:
Tari Gandrung, yang merupakan asal muasal Festival Gandrung Sewu, memiliki akar sejarah yang dalam. Tarian ini berasal dari Banyuwangi dan pertama kali ditarikan oleh seorang laki-laki bernama Masran pada tahun 1774, meskipun tari ini kemudian ditarikan oleh penari perempuan seperti yang kita kenal sekarang.

Pada tahun 1895, seorang anak perempuan bernama Semi, yang tidak bisa disembuhkan dari penyakitnya, dijanjikan ibunya akan menjadi penari jika sembuh. Semi sembuh, dan ibunya memenuhi janji tersebut. Dia menjadi pelopor penari perempuan dalam tari Gandrung, dan sejak saat itu, penari-penari Gandrung wanita mewarisi seni ini. Namun, sejak tahun 1970-an, tari Gandrung semakin populer di kalangan masyarakat, dan banyak yang mempelajarinya tanpa menjadi penari profesional.

festival gandrung sewu banyuwangi
festival gandrung sewu banyuwangi

Arti Tari Gandrung:
Tari Gandrung adalah ungkapan syukur masyarakat Banyuwangi atas hasil panen yang melimpah. Nama “Gandrung” dalam bahasa Jawa berarti tergila-gila. Dalam konteks ini, kata ini mencerminkan kagum dan terpesona akan kemurahan hati Dewi Padi yang memberikan hasil panen yang melimpah.

Awalnya, tarian ini hanya ditarikan setelah panen, tetapi seiring berjalannya waktu, ia menjadi bagian integral dari berbagai acara seperti pernikahan, festival, khitanan, dan banyak lagi. Tari Gandrung diajarkan turun-temurun dari satu generasi penari ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, masyarakat Banyuwangi sangat menghargai dan menyukai seni tari ini.

Ciri Khas Tari Gandrung:
Tari Gandrung memiliki ciri khas yang membedakannya dari tarian tradisional lainnya, termasuk:

1. Musik Pengiring:
Tari Gandrung selalu ditarikan dengan musik pengiring yang khas. Musik ini melibatkan alat-alat seperti gong, triangle, biola, kethuk, dan kendhang. Beberapa di antaranya telah dimodernisasi dengan alat musik seperti rebana, angklung, dan saron Bali. Musik ini selalu dilengkapi oleh seorang panjak yang memberikan semangat khusus.

2. Kain Batik:
Busana penari selalu menggunakan kain batik pada bagian bawahnya. Motif yang populer saat ini adalah motif batik Gajah Oling, yang terinspirasi oleh bentuk belalai gajah. Motif ini memiliki ornamen seperti kupu-kupu, buah pinang, tumbuhan laut, dan lainnya.

3. Hiasan Kepala:
Penari Gandrung memakai hiasan kepala yang dibuat dari kulit kerbau yang sudah dibersihkan. Hiasan ini dihiasi dengan ornamen berwarna emas dan merah. Mahkota ini terinspirasi dari tokoh Putra Bima dari cerita Antasena, yang memiliki kepala besar dan badan ular panjang. Hiasan ini bertujuan menutupi seluruh rambut penari.

4. Busana yang Terinspirasi oleh Bali:
Busana yang digunakan oleh penari sangat dipengaruhi oleh tata busana Bali. Banyuwangi berada dekat dengan Bali, hanya dipisahkan oleh Selat Bali. Busana ini berbahan dasar beludru hitam dan dihiasi dengan warna emas.

5. Properti Tambahan:
Sejak tahun 1930-an, penari Gandrung menggunakan kaos kaki putih, yang kini menjadi bagian integral dari busana mereka. Selain itu, tari ini juga melibatkan properti tambahan, seperti sepasang kipas yang memperindah penampilan penari.

Baca Artikel Lainnya

7 Kuliner Khas Banyuwangi Yang Harus Anda Nikmati

Melihat langsung Festival Gandrung Sewu adalah pengalaman yang unik dan berkesan yang bisa menambah kenangan liburan Anda. Jadi, saat Anda berencana mengunjungi Banyuwangi, jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati seni tari yang penuh warna dan tradisional ini.

Baca Artikel Lainnya

Paket Wisata Banyuwangi Menarik, Jelajah Alam Belum Terjamah

Posted

in

by

Translate »